Accelerice

-

Ariobimo Sentral Annex Building

Jl. Rasuna Said Kav X-2 No.5, RT.9/RW.4, Setiabudi, Kuningan, Jakarta Selatan 12950

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Instagram Icon

Pandangan Indonesia sebagai negara agraris mulai punah. Mengapa?

Accelerice Indonesia

17 July

Kita tahu bahwa Indonesia merupakan salah satu negara agraris tropis terbesar di dunia. Dari 27 persen zona tropis di dunia, Indonesia memiliki 11 persen wilayah tropis yang sangat cocok untuk lahan pertanian yang dapat ditanami dan dibudidayakan setiap tahunnya. Tetapi, pandangan Indonesia sebagai negara agraris mulai punah. Mengapa?

Hal ini dikarenakan Indonesia yang merupakan negara agraris, sebagian penduduknya masih mengalami kelaparan. Berdasarkan laporan Global Hunger Index pada tahun 2018, nilai index kelaparan di Indonesia sebesar 21,9 yang termasuk dalam kategori serius. Tidak hanya itu, Indonesia yang termasuk negara penghasil beras terbanyak di dunia, masih perlu mengimpor beras hampir setiap tahun. Produksi beras di Indonesia didominasi oleh para petani kecil dengan lahan rata-rata kurang dari 0,8 hektar dan masih menggunakan teknik-teknik pertanian yang tidak optimal. Para petani kecil mengkontribusikan sekitar 90% dari produksi total beras di Indonesia, bukan oleh perusahaan besar yang dimiliki swasta atau negara. Sedangkan negara Indonesia merupakan salah satu konsumsi beras per kapita terbesar di seluruh dunia. Konsumsi beras per kapita di Indonesia tercatat hampir 150 kilogram (beras, per orang, per tahun). Ditambah tingginya tingkat laju pertumbuhan penduduk, terbukti pada awal tahun 2018 Indonesia masih termasuk sebagai negara terbesar kelima yang menyumbang jumlah kelahiran bayi. Maka dari itu, beberapa tahun terakhir ini Indonesia perlu mengimpor sekitar 3 juta ton beras, terutama dari Thailand dan Vietnam untuk mengamankan cadangan beras negara. Saat ini, pemerintah Indonesia mendorong para petani untuk meningkatkan produksi mereka dengan mendorong inovasi teknologi, menyediakan pupuk bersubsidi, dan memperbaiki infrastruktur sawah (irigasi). Dengan usaha pemerintah, target peningkatan produksi hasil pertanian menjadi lebih visibel untuk diwujudkan. Terbukti dengan produksi beras bulan Januari hingga Maret 2019 berpotensi sebesar 14.288.120 ton. Untuk saat ini produksi beras sudah mulai meningkat dan tercukupi, tetapi perlu ada program kemitraan dengan para petani kecil penghasil beras dengan tujuan meningkatkan produksi beras melalui penggunaan teknologi-teknologi yang inovatif. Upaya ini dilakukan untuk menghindari resiko menjadi importir beras saat harga bahan-bahan makanan naik, yang dapat menimbulkan kelaparan dan kemiskinan. Selain itu, Indonesia memiliki kesempatan yang tinggi untuk mencapai swasembada beras dan untuk menjadi eksportir beras. Saat ini, pasar perdagangan internasional beras masih sangat sedikit. Menurut penelitian yang dilaksanakan Bank Dunia, hanya 5% dari produksi global beras diperdagangkan di pasar internasional. Suplai beras internasional berasal hanya dari tiga negara eksportir beras saja, yaitu Thailand, India dan Vietnam.